Pelajaran Hidup dari Prosmat : Perubahan Hal Kecil yang Memiliki Dampak Besar

“A very small man can cast a very large shadow.”

-Lord Varys to Tyrion Lannister in GOT Season 2

Tak memungkiri kalau kutipan di atas tidak terlalu relevan, walau begitu  saya merasa ada nilai  yang bisa diambil bahwa segala hal yang tekesan dikecilkan, diremehkan, diabaikan (penerapan aproksimasi pada  ilmu fisika untuk bisa menjelaskan fenomena alam yang terjadi sering mengabaikan perbedaan nilai yang kecil) pada konteks tertentu boleh jadi memiliki efek perubahan yang nyata bagi kehidupan.

Bukti nyatanya bisa dilihat dari ilmu pemrosesan material. Betapa disiplin ilmu ini saat ini mulai banyak mendapatkan perhatian di dunia penelitian. Rekayasa sederhana pada skala nano ternyata dapat menaikkan fungsi suatu bahan menjadi jauh di atas nilai asalnya.

semnanomaterials

Ragam Rupa Nanomaterial dilihat menggunakan SEM diambil dari sini

Contohnya, penambahan NP-ZnO 1% pada pelapis nanokomposit menyebabkan efek penghambatan terhadap pertumbuhan E. coli dan S. aureus, dua mikroorganisme  yang menyebabkan salak pondoh terolah minimal menjadi cepat rusak dan busuk. [Tugas Artikel Prosmat 4]

Penambahan mikrofiber menggunakan teknologi komposit dapat memberikan efek penguatan elemen pada material pembungkus makanan. [Tugas Artikel Prosmat 2]

Material pembungkus makanan antimikroba dapat diuji keandalannya dan ketahanannya  menggunakan teknologi Spektroskopi Transformasi Fourier Inframerah pada lapisan komposit  biopolimer penyusunnya. [Tugas Artikel Prosmat 3]

Di bidang aplikasi biomedik sudah ada penelitian mengenai nanopartikel yang dapat direkayasa menjadi agen pembawa obat. Sifatnya harus dibuat biokompatibel  dalam membidik bagian mikro tubuh bermasalah yang menjadi sasaran, dan memiliki perilaku superparamagnetik. Dalam penyembuhan penyakit kanker sendiri, diperlukan nanopartikel yang berperan sebagai vektor magnetik yang kuat untuk melakukan penetrasi ke dalam tumor. Fe3O4 memenuhi hal ini. [Tugas Artikel Prosmat 1]

Banyak pula contoh aplikasi bidang nanomaterial lainnya yang membuat saya kembali berpikir. Untuk melakukan suatu perubahan yang besar, untuk mulai menyelesaikan permasalahan yang besar, kadang kita harus memulai dari hal-hal kecil yang sederhana dan kadang luput dari perhatian.

Tak elok seorang warga berbicara dan meminta muluk-muluk soal perubahan dan perbaikan sistem (smart city) dalam suatu kota misalnya, jika dari individunya saja belum bisa mandiri dan cermat menggunakan gawai ataupun juga komitmen menaati peraturan (seperti menyeberang pada zebracross atau memarkir bukan pada trotoar) dan SOP yang berlaku. Tak bijak bagi mahasiswa menuntut dihapusnya jam malam apabila dalam waktu-waktu bebas sebelum itu saja mereka belum mampu memperlihatkan mulai dari hal sederhana bahwa kegiatan yang dilakukan memang bernilai produktif dan juga berkontribusi bagi kehidupan bermasyarakat dan juga berakademisi.

Racauan 1 setengah jam sebelum Kuliah Pemrosesan Material

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Dari Pojok Pikir Manusia yang Tuna Metamorfosa

Masa-masa kuliah adalah cerminan dari sepenggal perjalanan hidup. Empat tahun yang dilalui dapat menjadi penuh warna atau hanya seberkas cahaya monokrom, itu hanya soal pilihan. Namun, yang terpenting adalah apakah selama 4 tahun tersebut telah nampak perubahan yang terjadi pada diri ini? Sesignifikan itukah?

Sebagai mahasiswa Teknik Fisika ITB 2013, perjalanan demi perjalanan telah saya lewati. Entah berupa kisah haru biru maupun yang suram dan seram, pada akhirnya akan menjadi serangkaian proses yang semestinya membentuk diri saya di penghujung kemahasiswaan ini.

Teman-teman saya telah menemukan jalan hidup mereka, peran terpenting dalam hidup mereka sesungguhnya. Yang di UGM benar-benar mantap memutuskan mengorbankan organisasinya atau akademik, tak luput pula menuangkan hobinya dalam sebentuk fanfic manga yang sudah memiliki barisan penggemarnya tersendiri, yang di ITS, seakan menemukan belahan hati yang selama ini dicari, menjadikan hari-harinya tak pernah lepas dari eksplorasi sudut,kota dan sesekali mengabadikan romantismenya dalam sebuah wujud foto tanpa caption. Yang di UNS semakin memberdayakan dirinya untuk masyarakat, dan melanjutkan benderang kehidupan berorganisasinya yang ia rintis dari masa SMA, sementara yang di UI mengisi hari-harinya dalam ruang diskusi permasalahan sosial ibukota.

Sementara saya masih termangu dan meraba-raba. Hendak menjadi apa saya esok hari? Kata orang setiap orang akan menemukan ‘The Real I am’ nya masing-masing pada usia 21 yang seharusnya sudah cukup matang ini. Namun tak sedikit pula dari kita yang merasa masih menjadi amoeba, tak jelas bentukannya apa. Hingga kemudian orang pun akan bingung mendeskripsikan diri kita hendak seperti apa.

Babak demi babak kehidupan sebagai mahasiswa ITB telah saya lalui. Dari mulai mengikuti empat pelantikan organisasi, menonton berbagai pertunjukan unit kebudayaan ITB untuk menambah kecintaan dan kepekaan terhadap budaya Indonesia, mengikuti seminar ini seminar anu, berpartisipasi di berbagai kepanitiaan, berefleksi diri dengan berkonsultasi di bimbingan konseling kampus, mengikuti kunjungan alumni, kunjungan ke acara kick Andy, kunjungan ke Majalah Gatra di Kalibata, dan sebagainya, mendatangi segala event-event kota di Bandung, menghayati hingar bingar pertunjukannya dan mencoba mencari esensi yang ingin disampaikan di dalamnya, mencicipi sebanyak lebih dari 50 ragam kuliner di Bandung, mulai dari sesimpel nasi goreng , sehedon saladnya maja house, semerakyat hidangan rumah Bu Imas ataupun Ceu Mar, ataupun sehistoris roti gandum coklat di jalan gempol. Saya pun telah mendatangi berbagai tempat wisata alam di Bandung dan juga bergabung dalam kegiatan salah satu komunitasnya, yaitu Aleut untuk melihat sisi-sisi Bandung yang tidak biasa yang selama ini kurang tersohor pada brosur wisata maupun website di internet. Acara-acara terpusat di kampus pun tak jarang saya datangi untuk mereguk pola pikir dan semangat bermimpi dan bergerak dari kemahasiswaannya.

Akan tetapi, sepertinya ada sesuatu yang salah. Semestinya asam garam kehidupan kampus dan juga Bandung pada umumnya paling tidak akan mengembangkan seseorang menuju kepribadiannya yang lebih baik lagi. Nyatanya saya tak merasakan perubahan itu secara signifikan pada softskill maupun hardskill.

Beberapa aspek diri yang saya tinjau tak ada perkembangan yang berarti, di antaranya:

  1. Dari segi kemampuan menyampaikan gagasan pikiran, saya belum bisa menjadi pembicara yang baik di depan umum. Tak mampu menyampaikan gagasan yang menarik perhatian dan diterima oleh massa tempat saya bernaung. Dalam konteks yang lebih personal pun, saya masih belum bisa membagi value-value yang berguna buat teman maupun adik unit dan adik tingkat saya. Ini tentu bertolakbelakang dengan kenyataan bahwa saya sering mengikuti forum-forum diskusi kampus. Mengapa saya tak bisa belajar? Apakah hidup saya memang lebih banyak dipenuhi oleh unsur nirfaedahnya. Saya tak mengerti, boleh jadi selama ini saya memang tidak pernah serius mengikuti prosesnya, hanya selewat dua lewat kemudian hilang dari pikiran seiring pergantian hari . Alhasil tak ada satupun babak-babak kehidupan kampus yang meninggalkan jejak dan memberi sesuatu pada perkembangan pola pikir saya.
  2. Dari segi tulisan, beberapa teman mengatakan potensi diksi saya bagus, hanya saja alur tulisannya masih sering tersesat. Mungkin itu karena obsesi saya untuk menyuguhkan berbagai macam informasi sedetil-detilnya, sebanyak yang saya tangkap dalam wujud satu tulisan yang padu. Akan tetapi jatuhnya malah tidak fokus dan menjadi kurang enak dibaca dan akhirnya masih belum memenuhi kriteria tulisan yang layak menjadi konsumsi public.
  3. Dari segi kemampuan berkomunikasi untuk mengambil hati dan memengaruhi orang lain pun saya masih belum bagus. Padahal saya sering berhubungan dengan figure-figur kampus yang sanggup memengaruhi orang lain dengan sepatah dua patahnya katanya saja. Mengapa saya tidak bisa meniru? Saya juga ingin seperti beberapa orang figur di himpunan yang keberadaan mereka selalu menarik perhatian dan dinanti oleh orang lain. Setiap cuap kata yang keluar dari mulut mereka dapat menghibur orang di sekitarnya. Saya belum seperti itu dan kerap mengalami frozen moment, apalagi kalau lawan bicara saya hanya satu, topik habis berikut antusiasmenya.
  4. Sebagai mahasiswa teknik seharusnya saya menguasai paling tidak satu atau dua software, seperti pemrograman matlab atau pun solidwork. Yang ada hanya kata ‘boro-boro’. Boro-boro mau menjadi ahli di software-software yang bersifat keteknikan seperti itu apabila bikin slide presentasi saja masih belum bisa bagus.
  5. Dilihat dari skill olahraga, tak ada olahraga spesifik yang saya kuasai, bahkan memenuhi kualifikasi sekadar bisa pun juga jauh dari cukup. Saya merasa tertekan ketika mayoritas laki-laki di lingkungan akademik saya senang dan bisa olahraga seperti futsal, pingpong, atau tenis meja. Inferior kompleksitas saya semakin menjadi-jadi ketika kaum perempuan pun memiliki skill olahraga yang ternyata tak kalah jago, dari mulai basket sampai bulutangkis.
  6. Melihat dari segi ibadah, cara membaca al-qur’an saya pun masih belum indah untuk didengar. Sudah begitu makhrajnya juga belum benar.Padahal ada orang-orang hebat yang entah mengapa mereka bisa menyeimbangkan antara skill membaca al-qur’an, akademik, dan juga olahraga. Saya tak tahu peran apa yang bisa saya mainkan. Saya tak mau menjadi tuna karya tetapi di sisi lain terlalu inferior untuk menjual bakat, yang mungkin hampir tidak ada yang benar-benar jumawa untuk diperkenalkan.
  7. Saya kemudian menggali lagi dari sisi yang lebih sederhana. Hmm mungkin skill bernyanyi karena hampir di setiap kondisi yang tidak memungkinkan untuk berbuat apapun selain melantunkan lisan saya isi dengan bernyanyi. Kata orang hal yang berulang-ulang dilakukan akan membuat kita ahli akan hal itu bukan? Kenyataanya sama saja, entah karena kurang minta feedback atau tidak ada bakat sama sekali, teknik olah vocal saya masih payah, tambah lagi dengan kecadelan yang menyertai, lengkap sudah. Saya juga sudah berulang kali mengambil gambar dengan kamera hp saya, tetapi sama saja, mungkin saya benar-benar butuh coach agar tau apa yang seharusnya saya lakukan.

Jika sudah begitu ke mana 3 setengah tahun yang telah saya lalui? Skill apa yang bertambah dan berkembang setelah saya menjalani dan melalui berbagai macam hal di kampus ganesa ini? Softskill mana yang benar-benar terbentuk? Saya sangsi itu ada. Tak merasanya ada dampak berarti dalam diri saya mengantarkan saya menjadi pribadi yang pamrih. Saya ingin melakukan sesuatu kalau ada bayarannya, entah itu dalam bentuk honor secara harfiah ataupun sesuatu yang bisa ditulis di CV. Saya mulai mengajukan diri menjadi pengawas ujian ini pengawas ujian anu, dan pekerjaan berprofit lainnya. Idealisme sebagai mahasiswa untuk bergerak tanpa pamrih saya tanggalkan begitu saja. Saya ingin mengikuti ajang-ajang yang bersertifikat seperti seminar, workshop, maupun lomba agar setidaknya ada yang bisa dicantumkan di CV. Saya mulai begitu apatis dengan kegiatan-kegiatan kampus yang tidak menambah poin konkret pada CV saya. Menjadi staf terlalu biasa, tak menarik untuk diceritakan dalam wawancara kerja. Ya sudah saya mulai meninggalkan segala aktivitas kampus yang kurang memberi efek real pada kepribadian saya selain hanya nilai-nilai yang cenderung general, saya fokus saja ke akademik atau kegiatan – kegiatan yang lebih memiliki hasil konkret, seperti honor.

Kekecewaan itu memang begitu nyata. Saya sudah bosan. Saya sudah lelah mengikuti berbagai macam acara, ajang, ataupun kegiatan tetapi tak ada yang memberi perubahan berarti dalam diri saya. Ditambah lagi kondisi akademik saya yang masih belum bisa dikatakan aman.  Saya akhirnya tak lagi memenuhi ajakan untuk datang dan hadir di segala macam acara selama saya belum menemukan diri saya sendiri. Sebenarnya yang saya tuju itu apa? Betul kata teman saya, saya tidak jelas. Selama ini saya tak membatasi diri dan memberi prioritas terhadap hal-hal apa yang benar-benar menjadi kejaran saya. Akhirnya begini, akademik tak menentu,  kontribusi di organisasi pun tak pernah membuahkan dampak yang benar-benar nyata. Jika saatnya reoni nanti hendak bercerita apa saya nanti? Hendak ke mana saya akan melabuhkan diri untuk kembali karena tak ada hal yang mereka ingat dari saya, rekan-rekan yang pernah terlibat dalam sistem kerja yang sama.

Mungkin selama ini saya terlalu terobsesi untuk menguasai multiskill tanpa memikirkan relevansi dan eksekusinya secara nyata. Kurang mengasah skill-skill itu dengan lebih mendetil. Saya memang tidak fokus, tidak menekuni dan mengembangkan bidang yang sama secara berulang-ulang. Padahal aktualisasi kemampuan diri terbesar diperoleh dari latihan berulang-ulang dengan perbaikan dan terus mencoba segala metode tanpa kenal rasa bosan. Tak lupa meminta saran dan tanggapan dari orang lain, walau konsekuensinya ditolak, dikritik dengan pedas, di-judge dan sebagainya, tetapi itu memang sebuah risiko yang harus diterima apabila diri ingin berkembang. Selalu ada jalan sukar mendaki yang harus ditempuh dengan kesabaran demi perkembangan diri dan selalu ada hal-hal yang harus dikorbankan untuk mencapai tingkat aktualisasi diri tertinggi, entah itu menyangkut perihal waktu, harta, tenaga, pikiran, dan juga harga diri.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Semester 3 di ITB: Awal Penentuan Karir

Semester 3 di ITB merupakan sebuah periode yang dapat  menjadi mula malapetaka atau awal dari kegemilangan karir kemahasiswaan seseorang. Layaknya efek domino, langkah pertama yang diambil haruslah tepat karena akan memengaruhi keberlanjutan langkah-langkah selanjutnya, entah itu terhadap hubungan pertemanan, akademik, organisasi, dan juga prestasi.

Ada beberapa wejangan yang mungkin berguna ketika seorang mahasiswa memasuki fase ini.

Yang pertama, Turutilah segala aturan osjur dan ikuti semua prosesnya dengan benar sampai akhir pelantikan.

Kau bilang kau muak dengan segala aturannya yang kau pikir merupakan pembodohan dan membatasi kreativitas. Sedari awal kau menangis lelah dengan segala teriakan beringas yang mengusik fokusmu terhadap kegiatan belajarmu. “Idealismeku menolak keras terhadap segala jenis perploncoan, tak bisakah teman-teman angkatanku untuk menggertak dan menghentikan kegiatan ini?”

Sebelum menolak dan mengukung diri dalam keegosentrisanmu, pikirkanlah sejenak? Apa kau memiliki pilihan lain? Kau bilang “Ya, mungkin nonhim adalah pilihan terbaik.”

Kalau begitu pikirkanlah ini. Seberapa besar perbedaan fasilitas yang didapatkan nonhim dengan mereka yang bergabung dengan himpunan? Tak terlalu besar katamu, hanya soal embargo dari sekre himpunan, dan juga perintilan-perintilan kegiatannya yang menurutmu tak terlalu penting.

Tak terlalu besar? Lantas bagaimana dengan kesempatan dan momen beserta alasan untuk mengakrabkan diri dengan teman-teman jurusan di angkatanmu? Bagaimana dengan kakak tingkat? Dan juga adik tingkat yang sebentar lagi datang? Hey, jika dirimu selama TPB bukanlah orang yang cukup supel bergaul dengan orang tak dikenal tanpa sebuah alasan terlebih dahulu maka berpikirlah lagi. Barangkali momen ketika osjur dan aktivitas himpunan akan memudahkanmu memiliki alasan bergaul dengan orang-orang itu. Mereka, ya hanya mereka, orang-orang di jurusan,  yang bisa kau tanyakan seputar bagaimana cara menggunakan tabel properti termodinamika, hanya kepada kakak tingkat jurusanlah kamu bisa meminta bocoran kondisi soal-soal ujian tahun lalu, dan kepada adik tingkat jurusanlah kamu bisa bertanya tugas PR yang kau lewatkan ketika bolos mata kuliah yang mengulang.

Lalu kenapa hal ini begitu penting untuk diberi concern lebih di semester 3 ini? Karena penentuannya ada pada semester ini, kau akan bergabung dengan himpunan atau tidak sama sekali. Dan lagi, semester  ini adalah masa-masa krusial untuk memulai dan membina hubungan pertemanan dengan teman-teman di jurusan. Apabila dari awal dirimu dengan mereka sudah tidak akrab, maka sulitlah kalian untuk mengakrabkan diri di semester-semester selanjutnya ketika kubu-kubu sudah terbentuk kaku, mengerak, ibarat lempeng epifise yang sudah menutup dan tidak memungkinkan tulang untuk bertumbuh lagi, seperti itulah kira-kira proses pertemanan di jurusan. Sekali kau melewatkan momen inisiasi pertemanan itu, tahu-tahu kau sudah berada di tengah kumpulan lingkaran pertemanan yang terjalin erat dan sama sekali sulit ditembus oleh mereka-mereka yang dari awal tidak melakukan ‘pendekatan’.

Kau bilang kau tak butuh teman-teman yang begitu akrab di jurusan. Maka pikirkanlah siapa yang akan mengingatkan kekhilafan akan akademikmu di saat semua orang sedang sibuk-sibuknya khawatir dengan diri mereka masing-masing? Kawan-kawanmu  tentunya. Kau bilang sebagaimana di masa sekolah kau akan melewati masa sulit di kuliah dengan gemilang, sendirian, hal itu tak berlaku lagi kawan. Materi kuliah itu sangat banyak dan kompleks. Lima soal yang keluar di ujian hanya bisa kau jawab setelah menamatkan berlembar-lembar banyaknya halaman di buku text yang sangat tebal itu. Tambah lagi setiap tahun soal ujian akan selalu dirombak. Jika sudah begitu, siapa yang tahu informasi  lebih banyak dan lebih tepercaya, dia akan selamat menempuh segala ujian. Karena itulah dibutuhkan banyak informasi sebagai perbandingan. Dan informasi yang akurat tak hanya cukup didapat dari buku dan penjelasan dosen, tetapi juga dari perbincangan dengan teman-teman akrabmu. Kita tak bisa menyerap dan mengingat banyak informasi sekaligus, kita butuh orang lain untuk saling melengkapi dan mengingatkan.

Kalau kau sedari awal enggan mengikuti permainan dan politik pertemanan yang medianya, langsung atau tidak langsung, adalah osjur dan kegiatan himpunan yang menurutmu tak sesuai dengan idealismemu kawan, maka kelak kau akan menemui saat-saat di mana kau merasa sangat sendirian. Mau bertanya tetapi malu karena tak memiliki teman yang cukup dekat. Mau mulai membangun hubungan dengan banyak orang namun semuanya sudah sangat terlambat, di saat kau baru menyadari bahwa kau tidak bisa berjuang sendirian.

Yang kedua, Jagalah indeks akhir akademikmu,  jangan sampai ada yang nilainya BC, C, atau bahkan mengulang.

Selain menutup kesempatanmu meraih gelar cumlaude, indeks yang buruk juga dapat membuat IP mu berada di bawah tiga koma. Lantas di mana letak kegawatannya?

Kerugian atas IP mu yang di bawah tiga koma itu baru akan terlihat ketika kau memiliki beberapa persoalan berikut. Dari aspek biaya, jika kau adalah anggota bidik misi, maka IP mu yang di bawah tiga itu akan menjadi alasan para pemberi dana untuk menghentikan aliran uang untukmu. Karena biasanya syarat untuk mendapatkan dana bidikmisi adalah memiliki prestasi akademik yang bagus.

Lalu, apabila kau bukan bidikmisi dan mungkin biaya UKT mu memiliki nominal yang cukup besar, ada gejolak batin untuk membantu meringankan beban orang tua dan berpikir untuk meng-apply beasiswa. Namun, semua itu cuma jadi keinginan belaka ketika kau tak bisa memenuhi salah satu syaratnya : IPK minimal 3.

Tak hanya soal beasiswa, beberapa kegiatan mahasiswa yang bisa menjadi nilai tambah pada curriculum vitae  terkadang menggunakan syarat IP, contohnya Ganesha Forum Leadership dan juga Program Pertukaran Pelajar ke Jepang.

Dari segi akademik yang terdekat, menjadi asisten dosen juga mensyaratkan IPK tidak kurang dari 3 koma dan beberapa tempat kerja praktik pun ada yang menerapkan persyaratan demikian.

Sangat disayangkan bukan? Jejak peluang dan kesempatan karirmu di bangku kuliah harus terdegradasi dan terbatasi sejak dini hanya karena IPK mu yang kurang dari tiga koma. Hal ini juga dapat mendemotivasi dirimu untuk terus berkarya dan bersaing secara sehat sebagai mahasiswa. Padahal waktu menjadi mahasiswa adalah masa yang paling tepat untuk mengembangkan diri dan bereksplorasi terhadap hal baru yang bermanfaat dan produktif sebanyak-banyaknya.

Selain itu, IPK mu yang terjaga bagus dari awal akan membuatmu semangat menghadapi tantangan-tantangan akademik selanjutnya dan akan semakin meningkatkan kepercayaan dirimu seiring berjalannya waktu, untuk memecahkan berbagai persoalan baik di perkuliahan, organisasi, maupun ketika diaplikasikan di masyarakat.

Yang ketiga, Sudah saatnya untuk menentukan sedikit saja tempat yang akan dipilih untuk berdedikasi dengan totalitas.

TPB memang masa yang sarat open recruitment dan pelantikan anggota baru berbagai organisasi pengembangan diri. Tidak heran kalau mahasiswa ITB memiliki 3 sampai 5 organisasi pada masa awal kemahasiswaannya, itupun belum dihitung dengan jumlah kepanitiaan yang diikuti.

Namun ketika memasuki semester 3, hendaklah kita mulai memilih ke mana  akan memfokuskan diri dan meninggalkan tempat-tempat yang kurang menjadi prioritas. Berhenti untuk labil memutuskan di mana kau akan berkomitmen secara penuh. Dan berhenti pula berpikir bahwa kau bisa meraup banyak tempat aktualisasi tanpa kehilangan arah sedikitpun. Berorganisasi tidak sebercanda itu kawan. Ada banyak hal yang harus dikorbankan dan didedikasikan ketika berkecimpung dalam sebuah organisasi. Kontribusi yang tidak tuntas dan setengah-setengah hanya akan menurunkan kepercayaan orang lain terhadapmu. “Ini orang niat atau engga sih ngelakuinnya, kok dikit-dikit ngilang, dikit-dikit ngalihin amanah ke orang lain?” Tentu kita semua tak mau dicap sebagai orang yang hanya datang dan pergi sesuka hati dan tidak bisa amanah maupun total ketika diberikan kepercayaan untuk membantu mengurus permasalahan organisasi.

Buang jauh- jauh ambisi untuk memiliki banyak organisasi dan eksis di setiap tempat atau kedudukan. Satu organisasi pun bisa memberikan banyak inspirasi dan pengetahuan apabila kita mau mengikuti prosesnya secara tekun dan maksimal,  serta menggali intisari dan hikmah dari setiap pertemuan di organisasi tersebut. Waktumu untuk aktif di organisasi kampus sangatlah sedikit, apabila kau masih saja menjadi kutu loncat dengan pindah sana pindah sini dan tidak memberikan hal yang signifikan pada organisasimu maka bersiaplah untuk kenyataan pahit kawan. Di akhir kepengurusanmu-apabila kau kebetulan menjabat-kau akan menyesali kesempatan dan amanah besar yang kau sia-siakan. Tidak membuat perubahan yang berarti dan pantas untuk dikenang. Bahkan kau terlalu malu untuk menulisnya di CV. Orang-orang tak mengingat dirimu karena tak ada yang pernah benar-benar kau usahakan dan hasilkan. Tapi itu masih lebih baik, daripada mereka mengenangmu sebagai orang yang tidak komitmen dalam memegang jabatan.

Menjadi kutu loncatpun bisa memengaruhi pribadimu. Bayangkan ada tiga sampai empat organisasi yang mencantumkan namamu sebagai anggota tapi tak banyak perubahan dalam dirimu yang kau rasakan. Seakan-akan kau tak pernah aktif berorganisasi di unit manapun. Karena apa? Karena minimnya dedikasi yang kau berikan, kau tak begitu serius menjalani prosesnya sehingga pembendaharaan skillmu  tak bertambah. Terlalu memaksa aktif di banyak organisasi di waktu yang bersamaan juga membuat dirimu tak memiliki karakter dan pemikiran yang kuat. Bak buih-buih di lautan, kau akhirnya menjadi sering terombang-ambing arus pemikiran yang datang dari mana saja karena tak sempat mendalami dan memaknai nilai-nilai organisasi tempatmu sendiri.

Semester 3 memang waktu yang singkat, tetapi keputusan yang diambil dan perubahan yang diperbuat akan berbuah hasil yang membayangimu sampai kelulusan kelak. Janganlah terlena, jangan berleha-leha. Selamatkan semester tigamu, selamatkan jenjang karir kemahasiswaanmu di semester-semester selanjutnya.

 

 

 

 

 

 

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Sebuah Alasan Berada di Teknik Fisika ITB

Satu setengah tahun sudah saya menuntut ilmu di kampus gajah. Saat ini saya berada di jurusan Teknik Fisika dan tengah merasakan bagaimana kerasnya kehidupan itu. Sekian waktu belajar di ITB saya mendapatkan banyak pelajaran berharga, walaupun proses belajar itu sendiri belumlah usai.

Di sini saya membuat keputusan besar, yang bisa dikatakan cukup pandir. Bagaimana tidak? saya mengesampingkan passion dengan memilih jurusan yang sama sekali jauh dari minat dan kemampuan semenjak masa sekolah. Saya yang notabene agak terhambat dalam menyerap semua materi pelajaran Fisika, malahan dengan nekad memilih Teknik Fisika ITB sebagai tempat membangun mimpi dan kedudukan saya di masyarakat kelak. Alasan saya sederhana, saya tidak ingin terus-terusan menjauh dari sesuatu yang saya benci, saya ingin membuktikan bahwa saya pun bisa berdamai dengan yang namanya Fisika. Jika kita sudah bisa meng-handle sesuatu yang tidak kita sukai, pastilah untuk mempelajari sesuatu yang disenangi akan jauh lebih mudah, saya pikir begitu. Alasan pendukung adalah saya penasaran apa sebenarnya isi Laboratorium Teknik Fisika itu, kok kayaknya ajaib dan penuh inovasi? Ada angklung robot, alat pembau aroma teh, kursi roda otomat yang dijalankan oleh pikiran, dan sebagainya. Saya sangat tertarik dan yakin tiga tahun di TF ITB bukanlah hal yang wasting time. Ternyata memang benar,  kuliah di TF ITB tidak bisa buang-buang waktu, saya harus serius mengikuti semua materi yang diterangkan karena tingkat kesulitannya luar biasa. Saya tak pernah tenang sehari sebelum ujian.

Memang sebuah keputusan yang bisa dibilang sangat bodoh, apalagi saya gagal mempertanggungjawabkan pilihan saya itu di setengah tahun pertama. Imbasnya di akhir semester, saya mengalami sesuatu yang seketika meruntuhkan mimpi dan semangat saya menjunjung totalitas dalam kuliah: divonis tak akan meraih gelar cumlaude. Nilai E yang artinya harus mengulang kelas semester depan tentu saja membuat saya beku, terpaku pada situs ol. akademik itu. Ingin rasanya memutar waktu dan memilih Teknik Industri atau MRI saja, menyesali pemikiran pendek yang berimbas pada kesengsaraan panjang. Semua memang sudah sangat terlambat. Saya mengambil sisi positifnya saja, apabila saya berhasil melewati semua ini dan menutup perjuangan 4 tahun saya di sini dengan gemilang (walau tidak bisa cumlaude), maka saya akan berhasil memanajemen emosi dan diri saya sendiri serta terbiasa untuk menghadapi polemik yang terjadi di dunia luar akademisi. Saya mungkin terlahir sebagai pribadi baru.

Bicara tak semudah mempraktikan. Sampai detik ini pun saya belum bisa optimis untuk melewati tiga tahun dalam dunia para fisikawan yang penuh asumsi dan pengabaian itu. Kenapa mereka bisa berpikir seperti itu, kok saya selalu ga sepikiran? Kenapa dianggap kayak gitu? kenapa gak gini aja? Kenapa yang diketahuinya cuma dua paragraf, jawabannya bisa satu halaman? dan puluhan ribu kenapa lainnya yang kalau dikumpulkan sudah cukup untuk membuat saya didepak dari Teknik Fisika.

Meski pada awalnya harapan saya hampir pupus ditelan keterpurukan sebelum, saat, dan setelah ujian berlangsung, saya yakin peribahasa “Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian….” tak pernah salah. Walau kesannya maksa, karena bisa saja saya memilih jurusan yang sesuai passion dan jadi mapres di sana. Tantangan adalah alasannya, saya ingin mematahkan kebencian saya terhadap sesuatu yang saya tidak sukai, di jurusan ini saya ingin belajar menerima, bahwa tidak selalu dalam hidup kita akan mendapatkan apa yang sesuai dengan harapan kita, terkadang kita harus menerima dan mencoba mencari sisi positifnya. Saya berharap segera menemukan alasan kenapa saya ada di sini, terjebak bersama integral dan asumsi tak berkesudahan. Semoga passion saya bisa terekayasa, di jurusan yang penuh rekayasa keteknikan ini.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Salam Pemula!

Image

Guess, which one is me?

Perkenalkan nama saya Mochamad Mahendra Putra yang saat ini sedang duduk di bangku kelas XII SMA, Salam Super!

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com! This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

Happy blogging!

Posted in Uncategorized | 1 Comment